Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Baru saja...sekitar sepuluh menit yang lalu...membaca tulisan kawan berjudul "AKU RINDU"...
Dan sekarang saya pun sedang merasakan. Tapi bukan pada hal yang sama dengan kawan saya. Saya sangat rindu menulis. Tapi tak tahu ingin menulis apa. Yang tersetting di jari hanya bagaimana menulis code C++. sungguh rindu rasanya menguntai kata menjadi kalung yang indah... doakan semoga program yang di deadline jam 9 malam ini bisa selesai...
@LAB AJK
sungguh rindu menulis...
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Dalam perjalanan menuju Apartemen Misaki, pukul 23.01, sungguh sangat sepi. Khas Osaka di malam hari. Mungkin rata-rata dua mobil saja yang melintasi jalan raya. Dan tak ada bunyi bising klaksonnya. Pertokoan mulai tutup, hanya yang berlabelkan logo “24hr” yang masih melek. Halte-halte bus terlihat sepi. Busnya pun sepi pula. Hanya ada kondektur, supir dan maksimal 3 penumpang yang duduk di bangku belakang. Meski gemerlap lampu Osaka memerahkan rona malam tetap saja seperti pekuburan tempat para manusia terbenam di sibuknya pekerjaan mereka. Hanya beberapa pasang muda-mudi yang terlihat berjalan di trotoar. Entah sedang apa mereka malam-malam begini.
“Apakah memang seperti itu?”, gumamnya. Sungguh mengasyikkan jika memang seperti itu. Pikirnya. Sungguh menyenangkan malam hari di Osaka, jika memang seperti imajinasinya. Imajinasi seorang gadis belia yang tak pernah memejamkan mata saat gelap, seperi penjaga yang mengantar malam ke tidurnya. Ia adalah seorang penggila malam. Penikmat sejumput kesunyian yang di bawa malam. Pencumbu angin yang dingin. Yang selalu melukis angannya di langit hitam. Membayangkan bintang-bintang membentuk formasi serupa bunga sakura musim semi yang amat ingin dilihatnya.
“Begini saja sudah cukup.”, gumamnya lagi. Amat cukup baginya telah bisa menghadirkan bayangan pohon sakura. Karna ia tahu, peluangnya hanya berkisar nol koma sekian persen untuk bisa menginjakkan kaki di Jepang. Negara empat musim yang ia kagumi. Kekaguman tak terhingga pada gunung Fuji yang dari gambar yang dilihatnya begitu indah dengan taburan salju di sekitar puncaknya. Kekaguman yang teramat, karena dalam pikirannya Jepang itu kiblat kecerdasan. Lambang produktifitas yang tinggi.
“Huff…..” Ia menghela nafas panjang. Sedikit lelah mungkin dengan perjalanan menuju dimensi imajinasinya. Karenanya ia menjadi perindu kedatangan malam. Dimana tak ia temukan kegelisahan yang menyerang kala siang datang. Ia menjadi pendamba malam yang memberinya kehangatan. Yang mengijinkannya melihat batas dunia yang serba gemerlap.
“Kukuruyuuuuuuuuukkkkkkk…………..”
“Sudah matikah semua kucing di desa ini, hingga masih ada ayam yang mengeluarkan suara cemprengnya?”, katanya sambil sedikit marah. Selalu saja begini. Selalu marah jika ia berpisah dengan malam, karena itu berarti kembali ke dunia nyata. Dunia tempat ia harus membuang imajinasinya.
“Nama saya Budi.”,ia berkata pada seorang laki-laki yang tengah duduk di depannya.
“Name sayaaa Buuudiiiii…” tiru laki-laki itu dengan logat inggris-afrikanya yang masih kental.
“Apa kabar?”, katanya lagi.
“Ap khabar?” , si lelaki terus meniru.
Hidup di sekitar wilayah kampus menjadi sebuah keuntungan tersendiri baginya. Apalagi kampus ternama, yang didatangi pelajar luar negri. Dengan berbekal sedikit ilmu bahasa inggris yang didapat sewaktu ia mengenyam bangku SMA, ia menjadi guru les bahasa Indonesia khusus bagi para pelajar luar negri. Maklumlah, jarang di daerahnya ditemui orang yang mau mengajarkan bahasa Indonesia pada pelajar manca. Karena memang para pelajar mancanegara itu kebanyakan lebih memilih belajar sendiri ketimbang mengeluarkan uang untuk les bahasa Indonesia. 100.000 rupiah perbulan. Tak lebih. Itu pendapatannya dari menjadi guru les bahasa Indoesia.
“Hidup begini kok mau ke Jepang.” Pikirnya di suatu malam. Menurut ilmu statistika yang dipelajari para mahasiswa yang ngekos disekitar rumahnya, peluang itu teramat kecil. Tapi bukan berarti tak mungkin, karena harapan itu tetap ada. Ibaratnya selama persediaan memory masih ada, pointer linked list tak mungkin menunjuk NULL.
Ia letakkan kedua telapak tangannya di bawah kepalanya. Ia rebahkan tubuhnya di dipan yang sengaja ditaruh di halaman rumah kontrakannya yang sempit. Ia mencoba menembus lapisan langit malam yang hitam pekat. Meraba apa yang ada di baliknya. Tapi tak bisa.
“Mungkin seperti ini.”
Yah mungkin seperti itu sulitnya meramal apa yang terjadi esok hari. Ibaratnya syntax printf tak berjalan, membuat tak ada output yang muncul di console otaknya.
“Riaaaaaaaaaaaannnggggg……………” panggil kawannya dari dalam rumah.
“Cepatlah awak siap-siap.” Kata temannya dengan dialek Medan.
Yah menjadi perantau di Surabaya ternyata susah. Senin hingga Kamis ia harus bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe kecil tapi mewah di wilayah Semolowaru.
Riang Cipta Lintang.
Nama yang terjahit di baju kerjanya. Entah siapa pemberi nama itu. Ia juga tak tahu. Yang ia tahu hanya ia mempunyai seorang adik yang kini ditinggal di Medan. Tak berorang tua dan diasuh oleh panti asuhan dan kemudian menjadi perantau.
“Jus alpokat 2, jus melon 1 ndak pake susu, kentang gorengnya 3 porsi plus sambalnya yang banyak ya…”
Riang mengangguk sambil tersenyum. Setiap hari olahraga mulut. Melayani tamu-tamu kafe yang hampir semuanya adalah mahasiswa. Orang-orang kaya bingung menghabiskan uang. Pikirnya. Bagaimana tidak? Pergolas untuk jus 15 ribu. Hanya gelas berukuran sedang. Per porsi kentang goreng 17.500. Berpasang-pasang muda mudi silih berganti mendatangi kafe tempat ia bekerja. Hampir setiap hari orang yang itu-itu saja yang ditemuinya. Meski hanya sekedar duduk-duduk dan bersendau gurau, para tamunya bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan uang ratusan ribu.
“Kehidupan yang membosankan”, anggapannya. Tak ada greget kesengsaraan. Ah sudahlah, toh bukan salah mereka dilahirkan sebagai orang kaya yang diberi rahmat Tuhan bisa mengenyam perkuliahan.
“Tapi, tak kah mereka pikirkan orang-orang sepertiku? Tak kah mereka dididik untuk itu? ”
Ah sudahlah. Tiada guna. Begitu batinnya berkata di suatu waktu di Sabtu malam. Tiada guna memikirkan para mahasiswa yang kini terdidik untuk mengurus dirinya sendiri. Baginya mencari sesuap nasi itu lebih penting.
Baju kimono yang anggun. Sejarah hara-kiri yang menakjubkan. Salju putih yang amat dingin. Bunga sakura yang berguguran di musim semi. Jalan raya Osaka yang diramaikan para pejalan kaki di saat pagi. Kesunyian hidup di malam hari.
Bayangan itu tiba-tiba muncul lagi di benaknya di setiap malam perenungan Riang.
Kapankah kegilaan ini berakhir?Malam selalu berbaik hati mencipta teka-teki dengan segala misteri hitamnya langit. Ia menjadi selimutku yang hangat. Pendingin hati yang bergejolak karena ambisi. Penggelap segala ketakutanku. Dan pencipta imajiku.
“Riang… kenapa kau masih santai-santai? Lekas lah!”
Kawan Riang menghapus semua susunan bintang imajinasi di langit virtualnya.
Tepat jam 5 pagi. Ia berkeliling kampung Keputih untuk mengais barang-barang bekas di sampah-sampah. Mungkin bisa dikatakan, menjadi pemulung itu pekerjaan sambilannya di hari Minggu. Banyak yang sepertinya. Bahkan tak sedikit anak-anak yang telah berkeliaran di pagi buta menyangking sebuah karung di pundak dengan membawa sebuah tongkat pemilah sampah.
“I close the door. Like so many time so many time before. Filmed like a scene on a cutting room floor. I wanna let you walk away tonight without a word…. Baby I would tell you everytime you leave, I’m inconsolable… ”
Riang mencari sumber lagu pop Barat yang didengarnya ketika melintasi sebuah gang di perumahan para dosen universitas di daerahnya. Kepalanya bergerak ke kiri, kanan, belakang. Mencoba siapa yang meng-on-kan tape di pagi buta dengan keras. Akhirnya mata riang tertuju pada satu titik. Sebuah rumah kos mewah.
“Tak ada kerjaan kah mereka?’ katanya dalam hati saat matanya menangkap bayangan beberapa orang penghuni rumah kos memutar-mutar kepalanya sambil menirukan sang penyanyi.
Sedang stress kah mereka karena tugas-tugas kuliah? Meski begitu, tak bisakah mereka mengalihkan kejenuhan mereka pada hal-hal yang setidaknya berguna untuk mereka sendiri? Tak kah mereka berpikir bahwa anak-anak kecil yang mengais sampah yang mereka buang, bahkan tak bisa melepas kepenatannya? Ah Sudahlah. Pikiran tak berguna. Hari ini uang menipis. Kontrakan perlu dibayar. Memikirkan orang yang tidak memikirkanku sama saja seperti berenag di kolam yang tak berair.
Begitulah kalimat yang tertulis di otaknya saat gelap malam menjelang di hari Minggu. Lelah. Kini ia baru menyadari bahwa ia merasakannya. Tapi apa daya, kerasnya otak untuk memikirkan cara menggapai imajinasinya tak membuahkan hasil. Hanya pada malam ia dapat melukiskan harapnya.
Aku begitu menggilai malam. Yang mengantarku melakukan wisata harapan.
Aku begitu mennggilai malam yang menunjukkan padaku bahwa dedaunan pun bisa tersungkur, terlelap…
Yang membuatku bisa melihat indah bunga kamboja merah muda yang terasing di gersangnya pelataran.
Aku begitu menggilai malam yang menjadi kanvas semua asa.
Yang menjadi selimut penghangat dan kawan berbincang dikala tiap manusia memejamkan mata ketika ia menjelang.
Aku begitu menggilai malam, yang menjadi pemancar cahaya di kegelapan duniaku. Malam yang ingin kudekap, kujaga dan kulindungi dari fajar yang mengusik ketenangannya. Malam yang menjadi tempat tumpuan kala aku keluar dari sarang yang tiap pagi hingga senja mengurungku dengan segenap resahku.
Aku begitu menggilai malam yang menjadi saksi perjalanan tiap asa yang kulukis di langitnya. Yang menjadi saksi kelelahan manusia. Yang menjadi saksi terlelapnya aku untuk selamanya……
Terima kasih malam….
By_ yraz
In a night, seeking the way to the seventh sky
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
malam ini terasa begitu dingin untuk ukuran surabaya yang amat panas. tepatnya mungkin hanya aku yang merasa dingin. otakku dingin. beginikah jika hasrat ingin menulis itu membuncah, tapi tak segera kita tuangkan dalam goresan pena??
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Jadi gila rasanya....
ketika seorg kawan bertanya...kau punya brp banyak sahabat?
aku garuk2 kepala.brp banyak ya??
"sgt banyak..." aku jwab begitu.sekenanya....
"bagamn bisa sgt banyak??" dy bertanya...
dalam hati aku bergumam,,apa masalahny klo aku jawab punya banyak sahabat....
"memang,,sahabat yang kau maksud itu bgmn??"
tanyaku....sebenrnya bukan hanya sedg mngecek seberapa luas pengetahuannya ttg apa itu sahabat, tapi juga sekalian mencari referensi definisi sahabat.:D
"dy org yang mau mendengar segala keluh kesahmu....." jawabnya degn perlahan dan dgn wajah yg full ekspresi....
"dy adalah org pertama yg menghibur kesedihanmu..." puitis skali, pikirku.
dan dy melanjutkan setelah menghela nafas....ah ada2 saja...
"dy org yang datang untuk membantumu...sahabat itu org yang sagt kau percaya...
kau percaya penuh padanya..kau percayakan segala kisah dan petualangan hidupmu padanya..."
aku mengangguk2.....tanda tak paham..ha3....odokeru...:D
"sahabat itu org yg mengerti kamu...sahabat itu adlah orang dimana kau sangat nyaman menangis di pundaknya....
dy adalah satu2nya org yang mengatakan padamu "kau bisa..." saat kau merasa putus asa,
dy itu sandaran dari kelelahanmu.....dy adalah org yg kau anggap segalanya..."
hmmmmmmmmmm.............bergejolak....
kemudian,,beberapa saat kawan q terdiam...dy melihtku..aneh sekali.... gumamku dala hati,"what is he looking for in my eyes???"
1 menit, 2 menit,,mash diam...dan dasar aneh..di menit ketiga dy tertawa..terbahak2,,,tertawa lepas...dan kawanku pun bilang:
"ha3...kau pasti tak sepakat dengan semua kalimat yg baru saja aku ucapkan....di otakmu pasti sdh ada ribuan argument untuk menyerang ku..kau siap mengalahkan ku....ha3"
hahahaha.....
tak pernah sekalipun aku tampakkan raut ketidksetujuan ku saat dy bicara...dasar..
dan aku bergumam dalam hati:"dan kau adalah sahabtku,,yang bisa tahu isi pikiranku hanya dengan melihat mataku..."
tapi tak kukatakan padanya....krn kepalanya pasti meledak...ha3...
bagiku mmg bukan itu definisi sahabat...ini definisi manusia sempurna, pikirku...semua org adalah sahabat....entah mereka mau mendegr kisahku atau tidak(toh aku memng tak suka berkisah pd org lain),,entah mereka peduli atau tidak pd kita..krn persahabatan bukanlah simbiosis mutualisme....
di akhir perbincangan,,dy berkata:
"be my best friend,,,di......"
dan apa yang aku katakan pada ny???
tak ada......
krn dy hanya mengatakannya lewat mata sipitnya...he3.....
NB:
prbincangan disuatu malam di bulan oktober'07...
malam perpisahan untuk selamanya...
aku rindu kau, sahabtku....
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
What Must I say about you?
I always deny all what you said to me.
Eventhough u always help me to deny it all...
I dont know what must I do when you tell me that u're so jealous when I say that all people aroud are friends....
I deny your presence in my life...
what must I do?
when this longing attack my heart...
what must I say to you,when you're back to live?
its' funny..cz u'll never back to live...
I'm in full regret..
This is my first time in my whole life to say that..
What must I say to you now?
I'm like an insane, and hope that there's a miracle like in the movies...that u'll see me from the sky...
I cant understand my self tonight...
The night that u go away....
The night that I must give u the answer for the question that u ask to me through ur eyes in a night in october..
the last night u wait for me...
What must I say to you?
even I cant see the star on the sky, like I used to be...
What must I say?
I'm so mad tonight..
Tonight...
at the same date and time with the night you fly to the seventh sky...
all my crazy thought break down my principal thougt about "friends"....
so...what must I do??
even ur star doesnt give me answer.....
I really miss u
happy birthday,,the last day u're alive...
Indo version::
Aku harus bilang apa tentang mu?
Aku selalu mendebat semua perkataanmu...meski sering kali kau membantuku untuk mendebatnya...
Aku bingung, ketika kau tunjukkan kecemburuanmu kala aku sebut semua org adalah kawan.....
Aku selalu menyangkal kebredaan mu dalam hidup...
Aku harus bagaimana sekarang?
Saat rasa rindu tiba2 menyerang?
Apa yang harus aku katakan ketika kau kembali hidup?
ha3..lucu sekali..kau takkan pernah hidup...
Aku menyesal..amat...
ini pertama kalinya aku bilang menyesal....
ha3...
Aku harus bilang apa padamu sekarang?
Aku seperti org gila yang berharap keajaiban seperti di film2,agar kau melihat ku dari atas sana...
Aku seprti bukan diriku malam ini...
malam dimana kau pergi untuk selamanya...
malam dimana seharusnya aku memberi jawaban atas pertanyaan yg kau lontarkan lewat matamu di perbincangan malam di bulan oktober...
malam terakhir dimana kau harus menunggu....
Apa yang harus kukatakan padamu malam ini?
Aku bahkan tak bisa melihat bintang di langit surabaya seperti dulu..
Apa yang harus kukatakan?
Aku jadi gila malam ini.
Malam ini..
di tanggal dan waktu yang sama dengan Malam dimana kau terbang ke langit ke tujuh....
semua pikiran gilaku merobohkan seluruh argumentq tentang sahabat yang ingin q pertentangkan dengan mu...
Bahkan bintangmu tak memberi ku jawaban
Aku rindu..
Aku sangat rindu...
sepertinya semua keangkuhan talh kukorbankan tuk mengucapkan "aku rindu"...
happy birthday......the last day u're alive......
NB:
malam dingin
17 mei.....
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Begitu malam datang, aku keluar dari sarang yang tiap pagi hingga senja mengurungku dengan segenap resahku...
Menikmati sejumput sunyi yang ia bawa bersama angin darat yang berhembus...
Dan mencumbui setiap unsur hawa yang digandengnya..
Ragaku, kemudian memeluk malam dengan mesra...
Mendekapnya,,dan menghadang fajar megusirnya....
Malam adalah kawan bincangku, dikala tiap manusia terlelap ketika ia menjelang...
Ia selimut hariku, yang kurindu kehangatannya....
Ia cahaya kegelapanku, yang kuharap gemerlapnya...
Malam pun selalu berbaik htai mencipta teka-teki bagiku...
dengan segala misteri hitamnya langit...
Aku mengggilai malam yang mengijinkan mataku melihat batas dunia dengan segala kerlap-kerlipnya
Entah, aku tlah menjadi pemujanya ataukah hanya sekedar pengharap kemunculannya
Kemunculan malam yang menunjukkan padaku bahwa dedaunan pun bisa tersungkur, terlelap....
Membuat ku bisa melihat indah bunga kamboja merah muda yang terasing di gersangnya pelataran..
Kapankah kegilaan ini berakhir?
Ketika tak kutemukan pada malam, kegelisahan yang menyerang kala siang datang...
Saat ku tahu bahwa hanya malam yang bisa mendinginkan hatiku yang bergejolan karena ambisi...
Ketika kusadari hanya malam yang mampu menggelapkan ketakutanku...
Saat ku dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa hanya malam yang setia menjadi teman, kala ku terjaga tuk melenggak-lenggokkan penaku,, tuk sekedar memburaikan kelelahan jiwa...
hmmmm...hffff...
Kurasakan lagi angin yang berhembus deras menyapu wajah letihku
paragraf ini hanya sekedar intermezo...
karena ingin kulukiskan padamu..
begitu menyenangkannya aku terjaga saat malam..
karna angin pun setia menceritakan kisah hidupnya yang sepanjang masa...
Hingga akhirnya tersangkut di benak sebuah pertanyaan yang amat mempertanyakan kapankah
kegilaan ini akan berakhir.....
Krn aku akan jadi sangat gila,
kala tak bisa kutemui malam di hariku selanjutnya...
karena puzzle itu...belum kurangkai sempurna....
Surabaya,
lantai 3 kampus teknik informatika
28-04-2010
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Kini
Surya tengah melebarkan telinganya
Mendengar suara genta sekolah pagi buta
Mendengar jejak kaki pengejar asan di setiap buldan
Mendengar derap para pelari menuju pondok winaya
Mendengar petuah para guru yang terpajan di muka para pencari pemuas pemikiran
Surya kini merentangkan tangan panjang cahayanya
Membumbungkan asan para penjual lampin
Tuk jadi majikan tinta dan membeli sebuah pena dengan sebatang aurum
Meraba harapan budak-budak tuk mengukir cita di dada
Kini, surya sedang membuka mata
Melihat manusia mengejar kejayaan di belantara kehidupan
Melihat para bocah yang mengejar azam
Melihat bisu tumbuhnya asa dalam dada tiap insan
Sang surya pun menjadi saksi
Bagi para pencari dan budak, bagi para penjual lampin
Bagi para papa dan gahara
Bagi perjuangan tanpa limit menuju kemahsyuran wiyana nusantara
Bagi generasi penerus Muhammad bin Salamah
Tuk merebahkan peribahasa tua “Indah kabar dari rupa”
Kemudian berlari dengan asan penuh di dada
Tuk membelalakkan dunia(yrz)
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Kita,,
Bergerak,,,
Mencoba berproses secara rasional
Merekat, menyatu di tingginya emosi diri
Meredam bahana dalam setiap jumpa
Menyisik setiap derajat pikulan berat
Menghindar dari metamorfosis menjadi ranggas
Menghindar pula menjadi elemen kelas nomina
Kita,,
Bersirkulasi,,,
Menghancurkan hubungan sindikasi transendental
yang terbentuk karena tekanan
Merubah kongsi abstrak yang menjadi atmosfir
masyarakat semu yang kita cipta
Memberontak atas labelisasi kelabilan
Kita
Anjak Bersama,,,
Menjajakan perubahan paradigma di suatu wahana baru
yang kita berkecimpung didalamnya
Memuarakan generasi ke suatu masa
yang dipenuhi antonim ayat silam
Menghantarkannya menjadi eksponen di zamannya......
NB:
open KBBI
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
seringkali kita berpikir waktu adalah hal yg paling kejam dalam perjalanan ini. Waktu adalah sesosok yang berkepribadian ganda yang hadir di tengah kehidupan kita. Karena waktulah saat2 yg kita nanti itu tiba. dan karena waktulah saat2 yg kita benci itu hadir di tgh gelak tawa yang kita cipta saat bersama.
Meski kejam, namun kita tetap berterimakasih pada waktu krn tlah membuat saat yg sgt kita nantikan itu tiba.Saat dimana canda kita dimulai. saat yang mengikis bukit kerinduan kita. Saat yang membuat 2 duka mendalam itu tak lagi kita rasa tuk sejenak. Saat yang tercipta untuk merubah kita semua menjadi penuh senyum. saat-saat yang kehadirannya datang dari pengorbanan kita, yang kehadirannya membangunkan impian terpendam kita tuk slalu bersama.
Namun tiba2 waktu mendatangkan saat2 yg paling kita benci,,dan seketika itu kita pun mencabut ucapan terimakasih yg kita haturkan pada waktu. saat2 yg kita benci itu hadir ditengah gurau hangat yang kita cipta saat bersama. saat yg membuat kemarahan pada dri sendiri membuncah, saat menyedihkan yg membuat kita memenjarakan air mata dihadapan masing2, yang membuat kita kembali pada dunia kita masing2.Dunia diam kita. saat yang paling tak kita tunggu yang memicu kerinduan menjalar lagi di aliran darah kita, yang memicu tangis kita, yang memenuhi memori otak kita dengan kenangan2. Saat yang membuat hati kita-klo blh sedikit bermain kata dan meminjam istilah-hancur berkeping-keping, sakitnya tak tertahankan. Hingga kita sempat terpikir tuk tak pernah berharap akan kedatangan saat2 yang kita nanti, karena saat itu saat2 yg paling kita benci pun akan menyusul tuk mengingatkan bahwa ternyata 2 duka mendalam itu masih tertancap. saat yg membuatku bertanya apakah kita sama2 merasakan kedua saat itu ato hanya aku??(to be continued)
NB:
lyrics-->"please donk jangan lebay....."
ha3...
mf mb,,,msh to be continued ini...
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Jelmaan baru dari ku bagimu
untaian kata yang ku mainkan untukmu
arus kedamaian yang coba ku kirim padamu
aliran rasa yang q terjemahkan untuk batinmu
kudapan pesona ikatan yang kusajikan
gerbang semesta yg kutembus untuk kau lewati
fatamorgana yg coba kuhilangkan dari hidupmu
keindahan taman gantung babylonia yang coba kuhadirkan pada imaji mu
agar hilang sedihmu
jendela yg kucipta agar cahaya matahri bisa masuk
kemudian membuatmu sprti gula pasir yg kan selalu berkilau
dan rajutan ode hangat yang ku tulis dengan tinta darahku
semua ini adalah ungkapan terima kasihku
karena kau selalu ada dalam setiap LANGKAHKU
yang kuharap nantinya akan menjadi "LANGKAH KITA"
NB:
teruntuk kawanku, di sudut ruang dan merasa sendirian.....
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Ada yg lain
Ada yg lain selain aku,,sang empunya raga
yang mencoba menjadi supir dalam setiap jalan ku
yang mencoba menjadi raja yang memerintah ku
yang mencoba menjadi air yang memadamkan api ku
yang mencoba menjadi rotan pengikat kaki dan tanganku....
Ada yang lain
Ada yang lain selain aku,, sang empunya raga
yang sepertinya ingin merebut kekuasaan ku atas diriku sendiri
yang sepertinya ingin berebut jabatanku sebagai sang empunya raga
yang bahkan hampir berhasil memerintahkan kelopak mata ku untuk tak pernah terbuka
Yang lain ini
yang seringkali membuatku diam
yang acapkali membuatku bisu atas kebangsatan
yang seringkali melemahkan baja hatiku
Yang lain itu...
yang kutakutkan
mampu mengubah "kata ku"
Yang lain itu
"TAKUT"
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Setiap orang selalu berjibaku dengan kata-kata
seorang kawan dalam sajak tidurnya menulis:
Kita berjumpa di ruang kata-kata
kita melihat dengan kata-kata
kita mendengar dengan kata-kata
kita berencana dengan kata-kata
kita berkata-kata dengan kata-kata
Ya,,,untaian kata yang mengena, yang membuat aku berpikir....
sebegitu pentingkah kata-kata?
hingga kita harus menguntainya agar penuh makna?
tak bisa kah kita tinggalkan saja dia?
"Tak bisa"
seorang kawan lgsung menyerobot menjawab tanpa prolog,,ketika ku utarakan pertanyaan itu dengan lirih
"Kenapa??"
tanyaku...
"Kau takkan bisa bertahan hidup jika tak bergulat dengan kata-kata."
ya,,takkan bisa hidup jika aku tak bergulat dengan kata-kata
bahkan aku tak bisa berperang tanpa kata2
"Ilmu retorika hitler, Muso, atau soekarno pun tak lepas dr kata2"
"hu um.... Tapi bagaimana jika kata2 kita menjadi pedang pembunuh??"
"Memang itulah gunanya kata2...it's a killer", jawabnya.
"Peradaban baru dibangun melalui kata2 yang diuntai dalam sebuah pidato indah yang membuai para pejuang, yg melambungkan mereka ke lembar sejarah mereka yang baru..",lanjutnya.
"Ia adalah pembunuh ampuh para peradaban...", sambungnya..
dan aku masih mendengarkan dengan telinga yang sedikit kugerak-gerakkan.
"Namun tanpanya,, peradaban baru yang sedang kita perjuangkan ini tak kan pernah ada, kecuali hanya suatu keajaiban dari Tuhan.", tambahnya sambil kulihat bibirnya tersungging 2mm ke k kanan atas...
Dan ku balas dengan menyunggingkan bibirku 2,1 mm k kiri atas...
"Berkata-katalah kawan....."
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
entahlah
tak ada ide
semua serasa menjadi buntu
perkataan seoarng kawan langsung terngiang : "Dunia semakin gelap"
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Lelah ini tiba2 saja menyerbu
Membuat diamku jadi pertanyaan
Lelah ini membuatku bisu
membuat telingaku berpura-pura tuli
membuat mataku berpura-pura buta
Lelah ini
adalah langkah yang melumpuhkan kaki
adalah getar yang merajai gerak tanganku
adalah nafsu yang melemahkan jiwaku
Lelah ini
seperti menguasai aku yg ada kini
seperti jadi ratu dalam liuk hidupku
seperti bahasa penghipnotis
agar aku tidur dalam gerak selamanya
Kenapa harus ada lelah??
Adakah sajak penghilang lelah, penghapus lelah, ??
Adakah sajak penghanyut lelah, pengusir lelah, ??
Akankah lelah membuatku mebuang tanganku ke tong sampah
seperti yang kau sajakkan, wahai tukang tidur????
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de
Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta
Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother
Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...
Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...
===============================================================
Tuhan terlampau sayang padamu, IBU
hingga Ia memanggilmu tepat di hari ibu pula
hanya doa semoga kau diterima disisiNya yang bisa kuperbuat untukmu
I O U, mother.......
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
“Arggggggggggggggggggghhhhhhhhh………………………………”
“Nyebut tole….nyebut….”
“huh…………..huh………………….”
Ku rasakan tak karuan. Kacau. Rasa marah menyambut setiap pertanyaan yang kuajukan pada diriku sendiri.
“Sabar le,,,,sabar….”
Aku..aku bisa merasakan tangan emak yang membelai rambut dan mengusap dadaku. Tapi, aku…aku tak bisa mengendalikan kaki dan tanganku. Mereka seperti bagian lain dari tubuhku.
“Argghh……Arggh…..Argh……..”
Mulutkupun tak mau kalah liar.
“Huh,,huh”
Nafasku tersengal .Aku tak berdaya mengendalikan tubuhku sendiri. Aku lelah. AKU LELAH.
Mataku!!! Mataku!!! Aku tahu sorot matakupun ikut berlomba menjadi liar. Bengis, tajam, pancaran amarah. Aku..aku tak sangup melembutkan sorot mataku pada emak.
Aku lelah….aku lelah…..
“Argh…..Argh…..”
Teriakanku bertambah kencang setiap kali kurasakan tangan Abah yang renta menghalau gerak liar tubuhku.
“BRUK”
Suara itu sangat jelas. Dan bertambah nyata saat mataku dengan sorotnya yang tak berubah melihat abah yang tersungkur tak berdaya di lantai karena tendangan maut kakiku. Kemudian aku…..aku…….aku…..tak sadarkan diri.
-------------------------------
“Piye le, rasane awakmu?”
Lega. Kini kubisa merasakan bahwa aku punya tangan dan kaki. Damai. Karna sorot mataku tak lagi penuh dengan amarah.
“Emak...Abah.....”
Senang. Mulutku menjinak. Aku kembali. Ha ha ha ha.........
“Apa kau haus? Emak ambilkan minum ya?”
Aku menggeleng. Kupegang tangan emak. Mengiba dengan tatapan mataku. Mencoba memohon padanya untuk tetap tinggal disamping ku.
”Apa yang kau pikirkan dan rasakan sekarang?”
Pertanyaan abah membuatku bisu daalm sekejap. Rasanya pun ingin bisu selamanya. Perlahan air mataku menetes. Namun hanya air mata hati. Aku....diantara tahu dan tidak tahu. Ah entahlah aku bingung. Aku tahu kenapa aku begini, tapi aku takut mengakui, bahkan mengakui pada diriku sendiri.
-------------------------------
”Budi..... Budi......”
Sangat jelas. Ada yang memanggilku. Tapi aku tak peduli. Aku tak pedulikan mereka jika mereka memanggilku dengan nama Budi. Apakah ini berarti aku benci namaku? Sebegitu rumitkah aku?
Aku hanya tidak terima saja, ketika guru sekolah dasarku selalu mengeja kalimat ”Ini Ibu Budi ” atau ”Ini ayah Budi”. Andai aku punya ibu dan ayah, aku tak akan tersinggung. Aku hanyalah bayi tengil yang dipungut emak dan abah dari tumpukan sampah. Bahkan hidungku, kata emak, saat itu tertutup oleh pembalut wanita. Aku hanya benci. Hanya benci.
”Budi!! Aku memanggilmu dari tadi. Apa kau tak mendengarnya? Ehmmm..... Ini catatan Aljabar linear dan Pemrograman Terstruktur mu, kemarin ketinggalan di kampus.”
Kampus?? Heh... Halim mengingatkanku kalau aku mahasiswa. Aku ingin mengubur ingatan itu. Dan hampir berhasil, setidaknya sampai detik dimana ia menyebut kata kampus. Kata yang begitu aku benci, karena telah mengubah duniaku 180 derajat. Kata yang bisa membuat kepalaku penuh beban. Kampus..... tempat dimana aku hanya dididik untuk menjadi kapital hedonis dengan orientasi kebahagiaan materi. Tempat dimana aku, memulai debutku sebagai.......
”Oya, jangan lupa 2 hari lagi demo Final Project. Jadi rangkaian subtractor, divider dan modulo nya aku serahkan padamu.Oya Ujian akhir semester dimulai .....................”
Kepalaku.............mataku remang.......
”Budi..... Budi.....”
-------------------------------
”Rangkaian mu sempurna. Hampir tak ada cacatnya. Bagaimana kau membuatnya?”
Asprak ini membuatku illfeel. Tapi sedikit menyenangkan ketika rangkaianku ia nilai perfect. Tapi sungguh, pembuatan rangkaian ini sangat mudah.
”Ini hanya rangkaian subtractor biasa. Rangkaian divider pun, dasarnya subtractor pula, sedangkan hasil modulo, diambil dari hasil subtractor akhir rangkaian divider.”
Apa penjelasanku cukup gmablang bagi mereka? Ah, apa pentingnya. Mereka lah yang bodoh jika tak mengerti ucapanku. Lagi pula nilai A sudah ada didepan mata karena ucapan “sempurna” nya. Ha ha ha……..
“Harus menggunakan rangkaian komparator pada rangkaian divider nya”
”Lalu, bagaimana bisa kau jadikan modulo sebagai outputnya, Budi?”
Dua kali sudah, manusia berjabatan asprak ini membuat ku kesal. Tapi nilai A nya, cukup meredamku.
”Counter up. Dengan rangkaian counter up”
“Aku tak melihatnya. Mana rangkaian counter up yang kau maksud itu?”
Ingin sekali rasanya aku lemparkan pena yang dari tadi kugenggam ke wajahnya. Tapi biarlah. Ku masih menganggapnya asprak bodoh yang saat semester satu selalu revisi praktikum.
“Dalam sub circuit. Saya buat IC sendiri.”
Kepalaku…..kenapa? kumohon jangan di saat2 seperti ini......
-------------------------------
”Maaf nak Halim, apa Bapak boleh tahu kenapa anak Bapak, Budi, mendapat nilai E? Bahkan harus melakukan revisi minimal tiga kali?”
”Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Tapi Budi tidak mengerjakan tugas Praktikum nya. Uji rangkaian, ia hanya menyodorkan worksheet kosong, kemudian ia duduk, lalu diam dan tak menjawab sepatah katapun ketika penguji mengajukan pertanyaan padanya.”
Aku melihat kepala abah mengangguk-angguk, kala si Halim kudil itu berucap. Meski aku tak bisa mendengar apa yang mereka sedang perbincangkan, aku bisa menarik kesimpulan kalau abah sedang diguna-guna oleh halim, sampai abah tak berhenti menganggukkan kepala rentanya.
-------------------------------
”BANGUN!! SADARLAH KAWAN!! KAU INI MASIH HIDUP!! KAU MASIH BERNYAWA…… JANGAN JADI PENGHAYAL SEJATI!!!”
Tepatnya, yang kurasakan, Halim seperti menyuruhku untuk jangan menjadi seorang escapist sejati. Yah…. Aku memang seorang escapist sejati. Membuat dunia khayalanku, dan lari dari kenyataan yang ada didepanku. Bahkan, Budi pun masuk sebagai actor utama dunia khayalku. Cerita kampus pun terilhami dari langit. Si kudil Halim, dia terpilih jadi pemeran pembantunya. Lantas siapa aku?? Aku tak tahu. Mungkin lain kali akan kujadikan kau sebagai tokoh dalam dunia khayalku. Namun yang pasti, aku adalah orang yang tlah terjerat selamanya dalam dunia khayal yang begitu nyata.
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Surya mati suri di kaki langit barat
Menutup keluh para buruh
Menggotong kesah peresah
Surya menghilang di kalut langit petang
Menenggelamkan mimpi pemimpi
Menghanyutkan asa pengharap ke lautan sunyi
Mata para pekerja tertutup
Melupakan realita kerasnya hidup
Membuang ingatan lelahnya hari-hari
Pintu rumah jadi tak berekspresi
Senyumnya terhenti karna tlah datang petang hari
Jendela-jendela menutup mata
Menghalangi masuknya karbondioksida
Dan debu-debu penggoda
Lantai-lantai berubah suasana
Menjadi dingin karena cuaca
Hangatnya hilang karena tiada terkena sengatan surya
Pesuruh-pesuruh
Berenang dalam hening malam
Memuarakan diri di samudra mimpi
Tukang – tukang
Mati sekejap dibalut kain putih bergaris
Beralas perkawanan kapuk pohon randu
Ditemani persahabatan spon yang terpenjara
Ah lelah
Semua lelah.................
Kamar gelap
24 Januari 2008
Diposting oleh
GORESAN PERADABAN
Pena-pena itu
Berdansa dalam penjara
Hingga tintanya mengakar
Di lembar-lembar pinus yang tak lagi bernyawa
Pena- pena itu
Berduka
Ketika dirinya harus bekerja dengan paksa
Ketika dirinya sadar sedang dalam alam romusha
Pena-pena itu
Tiada henti menangis
Saat dirinya jadi saksi mati kesedihan pengemis
Saat dirinya jadi bukti kejamnya kapitalis
Pena-pena itu berteriak
Kala menyaksikan si miskin merasa sesak
Kala saksikan harta jadikan si kaya budak
Pena-pena itu
Terpaksa mendusta
Karena tak berdaya
Terpasung tubuhnya
Di bui terpenjara
Mulut pena-pena itu akhirnya membisu
Seperti mayat hidup
Membiru kaku
Dan kini
Harus rela diletakkan di peti mati
Bersama sampah hasil cipta manusia
Jogja,
Senin 28 Januari 2008